Evan Raditya Rilis ‘Moonlight and the PAREIDOLIA of Ghost’, Angkat Refleksi Diri dan Kritik Sosial Lewat Musik Eksperimental
Musisi sekaligus penulis lirik, Evan Raditya Pratomo, kembali memperkenalkan karya terbarunya lewat proyek musik yang ia jalankan dengan nama panggungnya sendiri. Lahir di Malang, Jawa Timur, Evan kini menetap di Surabaya dan mengaku lingkungan tempat tinggalnya—khususnya apartemen di lantai 18—memberikan ruang refleksi yang unik dan dekat dengan elemen langit yang kerap menginspirasi ide-ide kreatifnya.
Perjalanan Evan di dunia musik tidak lepas dari kecintaannya pada literasi sejak kecil. Ia tumbuh dengan berbagai bacaan seperti dongeng majalah hingga komik, yang membentuk gaya storytelling dalam karya-karyanya. Baginya, musik adalah medium lanjutan dari puisi dan ilustrasi yang selama ini ia tekuni, terutama sejak ia mulai mengeksplorasi teknologi baru dalam proses kreatifnya sejak awal 2024.
Meski begitu, Evan juga menyadari bahwa pendekatan musiknya kerap menuai perdebatan, terutama karena penggunaan teknologi AI dalam tahap awal produksi. Namun, ia menegaskan bahwa proses tersebut tetap melibatkan produser manusia, yakni Dyljon (@dyljonmusic), yang berperan besar dalam menyempurnakan hasil akhir karya. Baginya, kontroversi tersebut justru menjadi bagian dari narasi yang ingin ia sampaikan.
Secara musikal, Evan banyak terinspirasi dari genre seperti country, indie folk, hingga J-pop, dengan fokus utama pada kekuatan lirik. Ia mengagumi musisi dengan pendekatan storytelling kuat, yang kemudian ia adaptasi dalam karya-karyanya, termasuk dalam lagu terbarunya berjudul Moonlight and the PAREIDOLIA of Ghost.
Lagu ini menjadi semacam “saudara” dari track lain dalam albumnya yang berjudul ONEIROMANCER. Melalui lagu ini, Evan mengangkat keresahan pribadi terhadap sikap arogansi di internet, sekaligus refleksi terhadap dirinya sendiri. Ia menggambarkan momen kesendirian saat merenung ditemani cahaya bulan sebagai titik lahirnya lagu ini.
Istilah “pareidolia” yang diangkat dalam judul merujuk pada fenomena psikologis ketika seseorang melihat makna atau bentuk tertentu pada objek yang sebenarnya acak. Evan menggunakan konsep ini sebagai metafora bahwa karyanya mungkin dianggap “tanpa jiwa” oleh sebagian orang, namun tetap memiliki makna bagi mereka yang mampu merasakannya.
Dalam proses kreatifnya, Evan kerap memulai dari potongan lirik atau ide acak yang kemudian dirangkai menjadi lagu utuh. Salah satu bagian favoritnya bahkan berasal dari percakapan sederhana dengan teman. Ia juga menyelipkan kritik sosial dalam lirik, menyoroti perilaku netizen yang cenderung reaktif tanpa memahami konteks secara utuh.
Dari sisi produksi, Dyljon melakukan banyak eksplorasi dengan menggabungkan elemen rock dan ska, serta menambahkan instrumen dan aransemen baru agar lagu terasa lebih hidup. Evan berharap lagu ini bisa menemani pendengar, terutama saat momen reflektif seperti lembur di malam hari. Ke depan, ia juga tengah menyiapkan proyek baru yang disebut sebagai antitesis dari ONEIROMANCER, dengan target rilis pada 2027.


Comments
Post a Comment