Skip to main content

Abednego DSTB Rilis EP Vikasa, Ceritakan Perjalanan Bertumbuh Lewat Lima Lagu

 

Penyanyi dan penulis lagu asal Medan, Abednego Dharez Sinaga, atau yang dikenal dengan nama panggung Abednego DSTB, resmi merilis EP pertamanya yang berjudul Vikasa pada 3 Juni 2026. EP ini menjadi bagian penting dalam perjalanan musik Abednego yang mulai serius berkarya sejak 2025.

Lahir di Medan dan memiliki keluarga yang tinggal di Dumai, Riau, Abednego menjadikan pengalaman hidup sebagai salah satu sumber utama dalam menciptakan lagu. Bagi dirinya, musik adalah cara untuk menyampaikan cerita dan perasaan yang terkadang sulit disampaikan secara langsung.

"Menulis lagu adalah cara paling jujur untuk bercerita. Banyak hal yang sulit diucapkan langsung, tapi terasa lebih lepas saat menjadi lirik dan melodi," ujar Abednego.

Sebelum merilis Vikasa, Abednego terlebih dahulu memperkenalkan dirinya melalui single Masih Di Tahap Mantan Terindah pada 2025. Dari pengalaman tersebut, ia kemudian memberanikan diri melangkah ke EP pertamanya yang berisi lima lagu, yaitu Akan Menjadi Apa, Xenophobia, Kembali Pada-Nya, Terima dan Berdamai, dan Ai Lop Yu.

Vikasa mengusung nuansa pop alternatif dengan cerita yang berbeda di setiap lagunya. Ada cerita tentang kegelisahan terhadap masa depan, rasa takut dan asing, perjalanan kembali kepada Tuhan, proses menerima dan berdamai, hingga cinta dan kebahagiaan sederhana.

Nama Vikasa sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang memiliki makna mekar, tumbuh, atau berkembang. Nama tersebut dipilih karena menggambarkan perjalanan Abednego dalam proses menemukan dan menerima dirinya.

Kelima lagu dalam EP ini juga memiliki benang merah yang saling berhubungan. Akan Menjadi Apa menggambarkan kegelisahan dan pertanyaan tentang masa depan. Xenophobia bercerita tentang rasa takut dan asing. Kemudian Kembali Pada-Nya menjadi perjalanan untuk mencari pegangan dan kembali kepada Tuhan. Terima dan Berdamai berbicara tentang belajar menerima keadaan, sementara Ai Lop Yu menjadi penutup yang lebih hangat.

"Pesan yang ingin saya sampaikan adalah tidak apa-apa merasa bingung dan takut, karena itu bagian dari proses untuk mekar," kata Abednego.

Dalam proses produksinya, seluruh lirik dan melodi lagu diciptakan sendiri oleh Abednego. Menariknya, ide melodi tersebut banyak berawal dari acapella yang ia ciptakan menggunakan suara dan pikirannya sendiri.

Proses rekaman dilakukan di Nyubi Records, Jogja. Setelah itu, Abednego bekerja bersama Arwan Rosadi yang membantu menerjemahkan melodi acapella tersebut menjadi instrumen dan aransemen musik. Arwan juga mengerjakan proses mixing dan mastering. Keduanya terus berdiskusi selama proses produksi agar karakter dan rasa dari setiap lagu tetap sesuai dengan yang ingin disampaikan.

Dalam bermusik, Abednego mengaku banyak belajar dari berbagai musisi. Menurutnya, belajar tidak harus berasal dari satu musisi saja karena setiap musisi memiliki sesuatu yang bisa dipelajari. Namun, sosok yang paling ia idolakan adalah Lyodra Ginting.

Abednego banyak belajar dari Lyodra, mulai dari cara bernyanyi, menempatkan nada, stage act, hingga penampilan ketika berada di atas panggung. Ia juga terinspirasi oleh prinsip untuk tetap fokus berkarya tanpa harus menggunakan gimmick yang berlebihan.

Setelah Vikasa resmi dirilis, Abednego ingin memperkenalkan EP tersebut kepada lebih banyak pendengar melalui media sosial, penampilan langsung, playlist, media musik, radio, hingga berbagai kesempatan tampil.

Ia juga ingin lagu-lagu dalam Vikasa dapat diperdengarkan di berbagai kafe di sejumlah kota seperti Bandung, Yogyakarta, Jakarta, Medan, Surabaya, dan Makassar, sehingga musiknya dapat ditemukan secara lebih natural oleh para pendengar.

Bagi Abednego, Vikasa bukan hanya EP pertama, tetapi juga gambaran perjalanan dirinya dalam belajar, bertumbuh, dan terus berkarya. Ke depan, ia ingin tetap konsisten menciptakan musik, memperluas pendengar, berkolaborasi dengan musisi lain, serta mempersiapkan karya-karya berikutnya hingga suatu saat dapat menghasilkan album penuh.

Comments

Popular posts from this blog

Memet and Friends Rilis ‘Tak Ingin Terbangun’, Curhat Rindu untuk Orang Tercinta yang Telah Tiada

  Proyek musik kolektif Memet and Friends resmi memperkenalkan single terbaru bertajuk “Tak Ingin Terbangun”. Lagu ini menjadi karya yang sangat personal dari sosok di balik proyek tersebut, Rachmat Rianson Sihotang, yang juga bertindak sebagai pencipta lagu. Memet and Friends sendiri bukan sekadar nama band, melainkan konsep kolaboratif. Rachmat, yang akrab disapa Memet, berperan sebagai penulis lagu dan penggagas musik, sementara vokal diisi oleh para “Friends” yang diajak bekerja sama dalam setiap rilisan. Berasal dari Jayapura, Papua, Memet mengaku musik sudah menjadi bagian hidupnya sejak duduk di bangku SMP. Namun, proyek Memet and Friends baru aktif dalam beberapa tahun terakhir sebagai wadah eksplorasi kreatif lintas musisi. Dalam perjalanan bermusiknya, Memet banyak terinspirasi oleh grup legendaris Indonesia seperti Sheila on 7 dan Dewa 19. Tak hanya itu, warna musiknya juga dipengaruhi band internasional seperti Skillet. Dari situlah lahir karakter musik yang memadukan p...

Dilla April Rilis ‘Soro Lempu’, Lagu Bugis Tentang Keikhlasan yang Jadi Soundtrack Film

Penyanyi muda Dilla April mulai menunjukkan keseriusannya di industri musik Tanah Air. Pemilik nama lengkap Fadillah Apriliani Firsan ini resmi merilis single berjudul “Soro Lempu (Mengikhlaskan)” yang sekaligus menjadi soundtrack film Mattaro Janci. Dilla berasal dari Sengkang, Sulawesi Selatan, dan kini menetap di Makassar. Meski baru mulai menekuni karier musik secara profesional saat kuliah, perjalanan bernyanyinya sudah dimulai sejak usia dini. “Aku mulai menekuni dunia tarik suara sejak masih SD. Lalu mulai aktif ikut lomba sejak kelas 2 SMP sampai SMA. Jadi sebenarnya sudah berkecimpung di dunia tarik suara sejak kecil,” kata Dilla. Awalnya, musik hanya ia anggap sebagai hobi. Namun seiring waktu, berbagai kesempatan tampil di acara membuatnya mulai melihat potensi karier dari dunia musik. “Ketika ada kesempatan mendapatkan penghasilan dari job di berbagai acara, aku mulai merasa musik bisa menjadi sesuatu yang lebih serius,” ujarnya. Lagu Bugis Pertama Single “Soro Lempu” menja...

Nazela Amanta, Penyanyi Muda Asal Jember yang Siap Menapaki Industri Musik

  Industri musik Tanah Air terus menghadirkan talenta-talenta muda berbakat. Salah satunya adalah Nazela Amanta Ferishby Kaylila Galby, yang dikenal dengan nama panggung Nazela. Penyanyi muda kelahiran Jember, Jawa Timur, pada 12 Februari 2009 ini mulai menunjukkan keseriusannya di dunia musik sejak usia belia. Nazela yang saat ini masih berstatus sebagai pelajar SMA diketahui sudah memiliki ketertarikan pada dunia musik sejak kecil. Ia mulai mengenal dan menyukai musik sejak duduk di bangku taman kanak-kanak. Namun, langkah seriusnya di industri musik dan berbagai festival mulai ia jalani ketika duduk di kelas 2 SMP. Perjalanan karier Nazela dimulai ketika ia memberanikan diri mengikuti sebuah lomba menyanyi saat masih di bangku SMP. Dari ajang tersebut, ia berhasil meraih juara kedua. Pengalaman itu menjadi titik awal yang menumbuhkan rasa percaya diri, motivasi, serta ambisi untuk terus berkembang di dunia tarik suara. Dalam perjalanan bermusiknya, Nazela telah merilis single po...